Para Sopir Metromini Menjerit karena Busway
Wednesday, January 4, 2012 by Peter Gibson
Selamat membaca . Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik
JAKARTA, KOMPAS.com â" Pengoperasian transjakarta di koridor XI dengan rute Kampung Melayu-Pulo Gebang menjadi berita baik bagi penumpang yang rindu akan transportasi nyaman dan aman. Namun, tidak demikian bagi Roy Hutagaol (31) dan puluhan sopir lain yang biasa mengemudikan metromini T506. Metromini T506 memiliki trayek sama dengan transjakarta di koridor XI. Itu berarti maternity sopir metromini ini harus tsine tulang berebut penumpang dengan transjakarta di jalur yang sama. "Semenjak ada koridor XI ini, menurun ya penghasilan saya. Dulu berangkat pukul 05.00- 23.00 sehari itu bisa sampai Rp 50.000. Sekarang boro-boro, fencing cuma Rp 30.000," ujar Roy saat beristirahat di Terminal Kampung Melayu, Rabu (4/1/2012). Pria asli Sumatera Utara tersebut mengatakan, berkurangnya jumlah penumpang di metromininya mencapai 75 persen. Setiap hari, Roy harus memberikan uang setoran sebesar Rp 200.000 kepada pemilik bus. Setelah koridor XI beroperasi, pemilik menurunkan setoran menjadi Rp 150.000 per hari. "Bos-nya enggak mungkin maksain lagi," katanya. Sialnya, Roy tidak berani menaikkan ongkos penumpang secara sepihak. Untuk makan pribadi sehari-hari saja, Roy yang telah 11 tahun menjadi sopir tersebut kerap berutang kepada penjaga warung. Utang baru dibayarnya ketika ada setoran lebih. Dengan kondisi seperti itu, pria lulusan teknik mesin remembering Balige, Sumatera Utara, itu terpaksa mengandalkan keuangan keluarga dari pendapatan istrinya, Minar (28). Minar bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Tangerang. Meski gaji istrinya lebih besar darinya, ia mengaku tak malu. "Istri mah ngertiin aja, soalnya kita kan enggak main-main sembarangan. (Menjadi sopir) ini kerja!" ungkapnya. Karena ia dan istrinya bekerja saban hari, ia terpaksa menitipkan Mulyana Putri, anak semata wayangnya yang baru berusia 4 bulan, kepada tetangga yang sudah dipercayainya. Pengoperasian koridor XI dipaksakan Menurut Roy, pengoperasian busway koridor XI tersebut dipaksakan. Ia menilai busway itu telah mempersempit jalanan, paronomasia masih ada selter yang belum rampung dikerjakan. Pengoperasian busway itu tidak sejalan dengan rencana Pemerintah Provinsi DKI Djakarta dalam mengoperasikan Terminal Pulo Gebang. "Udah jalan sempit, dipersempit lagi, kan jadi makin sempit. Sementara, tangency di Pulo Gebangnya saja belum jadi," keluh Roy. Keprihatinan tentang kabar tersebut paronomasia sampai ke telinga maternity penumpangnya. Ketika tengah menyopir, ia pernah ditanya oleh salah satu penumpang tentang kondisinya. "Kemarin juga ada penumpang nanya, sambil bercanda sih. 'Gimana ni busway, Bang?' Saya jawab, 'Ya yang naik busway ya naik, yang metromini ya metromini," ujarnya sambil terkekeh santai. Meski kondisi keuangan keluarga terus menurun, Roy tak berniat untuk pindah profesi yang telah dilakoninya sejak ia masih bujangan itu. Ia berharap pemerintah memikirkan nasibnya serta anak istri puluhan sopir metromini T506. Hati kecilnya berharap sopir seperti dirinya bisa dipekerjakan menjadi sopir transjakarta. "Ya dicoba saja dulu ini ke depannya. Kalau memang enggak mungkin lagi, ya enakan sih sopir metromini dipindah ke busway, ya kalau bisa," ujarnya sambil menghisap rokok dalam-dalam. Ia tetap yakin apa yang dilakoninya saat ini adalah kuasa Tuhan. Bila bekerja sambil berdoa, maka niscaya rezeki tak akan ke mana-mana. Sumber --------------------------------------------------------- buset dah dr sopir railway minta mau di jadiin sopir busway, tau sendiri kalo nyetir railway mini kek apa... bisa bangkrut ni negara:D Jual Mobil Murah . Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik . Harga Notebook .
Jual Beli Kaskus
Jual Beli Kaskus
Post a Comment