Makan Gak Harus Nasi Kan...???
Thursday, January 5, 2012 by Peter Gibson
Selamat membaca . Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik Bread Talk playwright Die sambungan surat terbuka utk teman-teman Faperta UGM soal Spabduk,"Makan tidak harus Nasi kan?" by Impulse Jogja on Sunday, Oct 30, 2011 at 12:43pm sambungan surat terbuka 3 hari lalu...Kita di state nampaknya membuat kekeliruan yang sama dengan yang dibuat oleh banyak negara berkembang lainnyaâ¦Meskipun perhatian kita terhadap pertanian pangan amat besar sehingga tercapai swasembada pangan, namun dana yang dicurahkan bagi industrialisasi jauh melebihi kewajaran dengan sekaligus kurang memperhatikan pengembangan agribisnis dan agroindustri yang seharusnya merupakan bagian tak terpisahkan dari proses industrialisasi berwawasan pengembangan sumber daya pertanian,⦠(Mubyarto, 1995) Cuplikan tulisan Prof. Mubyarto tahun 1995 dalam State of The Art Ilmu Ekonomi Pertanian state sangat relevan untuk melihat âkematian berasâ yang dihasilkan dari kerja keras petani-petani kita yang kini pamornya kalah dengan industrialisasi gandum. Industrialisasi Gandum telah mencapai tahap advance, dengan maraknya gerai-gerai workplace di Yogyakarta saat ini. Di sepenggal Jalan Kaliurang sebelum Ring Road saja terdapat kurang lebih 5 gerai workplace yang menawarkan aneka rasa produk roti. Gerai-gerai workplace seakan terus mencari ruang di Yogyakarta untuk menunjukkan eksistensi industrialisasi Gandum. Di Jalan Gejayan kurang lebih terdapat 4 buah gerai yang mengusung adjudge industri roti luar negeri maupun dalam negeri. Hal ini sangat ironis dengan shibboleth ânegara agrarisâ yang selalu ada dalam ingatan kita tentang Indonesia, bahwa identitas sebagai ânegara agrarisâ tidak sesuai kenyataannya. Industrialisasi beras tidak pernah mampu menunjukkan jati dirinya yang membanggakan kecuali masalah peningkatan produksi, produktifitas, kelangkaan, polemik harga dasar dan impor beras. Beras yang sekarang ini hadir di depan kita untuk dinikmati selalu sama dari ke hari, tanpa bernah âbersolekâ. Sedangkan di sisi lain melalui industrialisasi international house gandum âbersolekâ semakin cantik, dan apabila tahun ini dicanangkan sebagai epoch BREAD TALK memang betul demikian kenyataanya. Tahun ini adalah tahun gandum beserta produk-produk sekundernya. Roti dengan berbagai macam rasa, bentuk, tampilan, asesoris penghidangannya, hingga kandungan diet-nya telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, dan uniknya setiap âkelasâ dari masyarakat Yogyakarta telah memiliki acuan gerai-gerai roti tersebut sesuai dengan kapasitas keuangan mereka. Ada donat âkelasâ Beringharjo ada pula donat âkelasâ Mall, hal ini mempertegas bahwa BREAD TALK telah mewakili kebutuhan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Sedangkan di sisi yang lainnya beras dapat dikatakan menghadapi kematiannya. Tahun ke tahun industri beras hanya berkutat pada masalah usang, seakan tidak ada ruang untuk beras âbersolekâ seperti saudaranya serealia-nya yaitu gandum. Ujung dari hal ini sering sekali terdengar kritik atas industrialisasi gandum yang telah membuat beras sekarat. Para pelaku industrialisasi gandum ditimpakan setumpuk kesalahan, mulai dari diisukan tidak nasionalis, kemudian tidak mempunyai kepedulian terhadap petani dan kebijakan peme! rintah, hingga di labelkan sebagai antek kapitalis dan lain sebagainya. Semua kritik dan umpatan atas sekaratnya beras tersebut sebenarnya salah alamat, maternity pelaku industrialisasi gandum tersebut melalui gerai-gerai roti mereka sejatinya hanya menangkap peluang dengan menyesuaikan perubahan gaya hidup masyarakat. Masyarakat telah bosan dengan beras yang statis bentuk serta rasanya dan semakin menurun kualitasnya dari tahun ke tahun. Industri beras yang enggan beranjak dari bentuk primernya ditengah kapitalisasi kehidupan masyarakat adalah suatu âkesalahanâ. Seharusnya beras mengikuti kapitalisasi yang tengah berlangsung deras tersebut, sehingga muncul ditengah kita produk-produk sekunder dari bahan dasar beras yang beraneka macam dan bercita rasa tinggi. Keengganan beras beranjak dari bentuk primernya tersebut semakin mempercepat kematian beras dalam libasan BREAD TALK. Kebijakan Tidak Tepat Kebijakan pangan yang cenderung defensif, melindungi ketersediaan pangan dalam negeri adalah awal dari tersingkirnya beras dalam pusaran indutrialisasi dan kapitalisasi. Beras cenderung sebagai komoditas politis untuk legitimasi keberhasilan pembangunan. Beras tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan identitas yang sebenarnya. Akibatnya beras tidak diberi ruang untuk âbersolekâ, bahkan mereka yang akan âmeriasâ beras untuk menjadi produk-produk sekunder harus berpikir masak-masak atau bahkan terbirit-birit lari menjauhinya. Beras adalah bisnis politis, oleh karena itu kapitalisasi untuk merubah beras menjadi produk yang setiap menit dapat di akses dan langsung dinikmati seperti donat di pasar ataupun Mall masih jauh dari jangkauan. Aksesibelitas produk sekunder beras adalah akibat kebijakan defensif terhadap komoditas ini. Seharusnya kebijakan perberasan adalah offensif, âmenyerangâ, dalam hal ini menyesuaikan gaya hidup masyarakat. Dengan penyesuain tersebut be! ras akan diterima oleh masyarakat bukan sebagai komoditas yang sekedar âmengeyangkanâ perut tetapi komoditas yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan dan gaya hidup. Petani adalah pihak yang fencing diuntungkan apabila produk sekunder beras bermacam bentuk dan cita rasanya. Namun hal ini memerlukan keberanian untuk âmenabrakâ kebijakan pangan yang defensif dan mengubahnya menjadi kebijakan yang offensif. Menempatkan beras sebagai komoditas kapitalis memang bukan kebijakan yang populer dan akan menuai banyak kritik, namun percayalah bahwa dengan kapitalisasi, beras akan menjadi produk yang berbicara atas nama dirinya. Beras akan semakin menemukan ruang untuk merubah bentuknya melalui ruang-ruang industri yang sarat normal dan teknologi seperti yang terlihat di gerai-gerai roti. Beberapa tahun ke belakang muncul kebangaan ketika di pasaran tersedia beras instan dengan berbagai cita rasa, namun dalam hitungan bulan produk sekunder komoditas beras tersebut lenyap dari pasaran. Bukan hal yang mudah memang untuk mewujudkan produk sekunder beras karena masyarakat sudah terlanjur memberi adjudge beras sebagai komoditas âsakralâ, baik secara tradisoal maupun politis. Oleh karena itu beras tidak pernah berbicara atas nama dirinya sendiri sebagai sebuah komoditas pertanian yang sebenarnya memiliki banyak kegunaan dalam berbagai bentuk. Kegagalan Agribisnis Agribisnis sebagai pendekatan pembangunan pertanian dengan mengedepankan integrasi hulu-hilir, dimana aspek bisnis menjadi hal yang menentukan pembangunan pertanian, pada kenyataanya hal ini gagal. Agribisnis manis untuk dibicarakan namun sangat sulit dilaksananakan. Kematian beras adalah bukti kegagalanimplementasi konsep agribisnis yang tidak mampu memberi nilai tambah kepada beras melalui sentuhan-sentuhan industrialisasi dan kapitalisasi. Wajar apabila produk-produk sekunder gandum dari mulai galundeng, cakwe, donat sekaten, bakwan, roti pupil hingga blast yarn serta connector tremble âmecanduiâ masyarakat, di saat beras masih terbelenggu dengan serangkaian kebijakan jadul (jaman dulu). Agribisnis yang didengung-dengungkan harus mampu membawa beras pada pusaran kapital, industri dan teknologi. Hanya dengan masuk pada pusaran tersebut beras memiliki nilai tambah, baik dalam minimal maupun pasar. Kepastian pasar dan nilai tambah minimal yang tinggi dari produk sekunder! beras akan berdampak positif bagi kegiatan produksi beras, karena rangsangan produksi sebenarnya hanya bergantung dari kedua hal tersebut, yang selama ini diabaikan. Jual Mobil Murah . Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik . Harga Notebook .
Angga Sanusi
Angga Sanusi
Post a Comment