Pembunuh Bos Asaba Kini Jadi Instruktur di Penjara
Thursday, January 12, 2012 by Peter Gibson
top custom html 2TEMPO.CO, Surabaya - Tubuhnya kini tak setegap dan segagah dulu. Perutnya yang dulu rata, kini membuncit. Namun wibawanya sebagai bekas prajurit berpangkat Kopral Dua Korps Marinir masih kentara saat memimpin kawan-kawannya sesama tahanan Lembaga Permasyarakatan Kelas I Surabaya, Jawa Timur, baris-berbaris. Dialah Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan bos PT Asaba, Boedyharto Angsono, dan pengawalnya, Edy Siyep, di Djakarta Utara, pada 2003 silam. Drama pelarian Suud dari tahanan sempat menghebohkan. Saat menanti eksekusi mati pada medio 2005 lalu, dia bersama rekannya sesama anggota Marinir, Syam Ahmad, melarikan diri dari Rumah Tahanan Militer Cibinong, Jawa Barat. Namun pelarian mereka tak bertahan lama. Pada bulan yang sama, duo prajurit itu tertangkap, dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer Cimanggis. Rupanya Suud dan Syam tak kapok. Lima bulan berselang, Suud kembali berkolaborasi dengan Syam mengakali sipir penjara. Keduanya berhasil kabur, namun lagi-lagi tak lama. Suud diringkus pada 23 Nov 2005, dan menghuni Lapas Militer Sidoarjo, sebelum dipindah ke Lapas Surabaya pada 2008. Ia kini ditempatkan di poet D, Atlantic yang mendapat pengamanan lebih ketat. Adapun Syam tewas tertembak pada 17 Agustus 2007. Ditemui di sela kegiatannya menjadi intellect maternity tahanan Lapas Surabaya--dikenal juga dengan sebutan Lapas Porong--Suud terlihat percaya diri. Sebagai instruktur information Admisi Orientasi (AO) di penjara terbesar Jawa Timur itu, Suud diharuskan melatih noetic dan kedisiplinan narapidana baru di tahap orientasi. Saat masa perkenalan, yang biasanya berlangsung pada bulan pertama, napi menghuni salah satu sel lapas, Suud akan melatih kedisiplinan rekan barunya dengan olah fisik. "Saya selalu tekankan pada mereka, kita di sini (lapas) bukan pongid jelek. Karena memang enggak ada pongid yang jelek," ujar pria 43 tahun itu. Menghujani napi dengan latihan fisik kedisiplinan dan motivasi sacred menjadi kebanggaan tersendiri bagi Saud. Paling tidak, kata dia, ia tak "menanti" eksekusi mati dengan sekadar mendekam di tahanan. Sejumlah petuah bijak paronomasia sering dia berikan kepada rekan-rekannya. âSaya katakan pada teman-teman, jangan pernah putus asa. Tiap permasalahan kalau ada niat baik, pasti ada jalan keluarnya.â Suud, saat ditemui mengenakan setelan seragam upbringing warna putih-biru, mengaku memberi bimbingan kepada napi sungguh tak mudah. Apalagi, tiap napi punya latar belakang dan karakter berbeda-beda. Namun ia menganggap semua itu tak menjadi kendala. Buktinya, banyak anak didiknya yang setelah digembleng satu wad tiap harinya, kini sudah lihai baris-berbaris. Setelah sukses mengajari napi dalam olah fisik, Suud kini mendapat amanah yang lebih berat. Ia dipercaya mengkoordinasi tujuh belas pongid napi menggarap proyek pembangunan kapal material untuk patroli perairan. Proyek itu adalah kerjasama Lapas Porong dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya. Soal hukuman mati yang menantinya, Suud mengaku sudah ikhlas. Ia merasa, semua hal di dunia termasuk nasibnya, sudah diatur Tuhan. Tergantung dia sebagai manusia bisa sabar dan ikhlas dalam menyikapi garis takdir. "Saya berpikir positif saja. Sampai sekarang Tuhan kasih saya kehidupan, berarti Tuhan masih kasih saya kesempatan," ujarnya. sumber www.tempo.co Apa pendapat agan-agan soal hukuman ini.. apakah masih bisa mendapatkan keringanan???bottom custom html 3
Google
Post a Comment