Selamat membaca . Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik Gita Wirjawan Ajak Masyarakat Makan Ubi dan Singkong Senin, 02 Jan 2012 07:51 WIB Jakarta, (Analisa). Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan sangat yakin masyarakat state bisa merubah pola konsumsi berasnya. Caranya dengan lebih banyak makan sumber karbohidrat lain, seperti ubi dan singkong. Ia mencontohkan, masyarakat di kampung Cirendeu, Cimahi, Jawa Barat, tetap sehat meski mengkonsumsi ubi dan singkong. Mereka paronomasia hidup sejahtera. Ia sendiri juga mencoba belajar mengubah konsumsi nasi menjadi singkong atau ubi. "Saya saja pagi-pagi itu makan singkong atau ubi. Lalu siangnya makan nasi merah,"kata Gita di kantornya Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (30/12). "Memang pertama-tama tidak enak tapi nanti juga jadi biasa." tambahnya. Perubahan pola makan penting dan berguna. Karena masyarakat tidak lagi tergantung pada beras, dan pemerintah tidak lagi perlu selalu impor beras untuk menutupi kebutuhan dalam negeri. "Perubahan pola konsumsi ini saya sangat serius. Konsumsi beras kita itu 140 kg per pongid per tahun, sedangkan Siam dan warfare itu hanya setengahnya, 70 kg per pongid per tahun. Terutama untuk beras dan gula, kita harus rubah pola konsumsi yang tinggi itu menjadi rendah." tegas Gita. http://www.analisadaily.com/news/rea.../#.Twi0Z1YWm3M Menteri Gita: Saya Makan Singkong! Jum'at, 06 Januari 2012 | 18:03 WIB TEMPO.CO, Jakarta- Menteri Perdagangan Gita Wirjawan beberapa hari terakhir ini menjadi head berita di koran-koran. Dia bicara ceplas-ceplos tentang banyak hal mulai soal mewajibkan pegawainya memiliki skor TOEFL (Test of arts for Foreign Language) sampai soal perlunya pongid state makan singkong. Kali ini dia mengaku mengubah kebiasaan makan beras menjadi makan singkong. "Angka tidak pernah berbohong," ujarnya kepada Tempo. "Jika hari ini 240 juta pongid state mulai mengganti makan malamnya dengan singkong, hari ini juga kita beralih dari pengimpor menjadi pengekspor beras," ujarnya dengan serius marten lalu. Mengapa Gita ngotot menganjurkan pongid state makan singkong? Gita mengaku sedang berusaha menciptakan keseimbangan cater dan demand. Untuk itu, katanya lagi, harus ada perubahan pola konsumsi. Misalnya per hari ini penduduk state mengkonsumsi beras 140 kilo per pongid per tahun. Di negara tetangga--Thailand, Malaysia, Vietnam--konsumsi beras 65-70 kilo per pongid per tahun. "Bayangkan, kalau besok pola konsumsi kita turun ke 100 kilo saja, kita tentu sudah dalam posisi mengekspor," ujar menteri yang berlatar belakang pengusaha itu. Gita mengaku dia bukan asal bicara. Dia sudah mempraktekkannya dalam kehidupannya sehari-hari. "Saya sudah tidak makan nasi pagi dan malam, gantinya ubi atau singkong," ujar Gita. Pagi dia makan singkong dan siang makan beras merah. Adapun malam hari menteri yang juga important pianissimo itu mengaku tak makan nasi lagi. Selain ingin mengubah pola makan nasi, Gita juga ngotot ingin mengubah pola makan daging. "Di Indonesia, kita hanya mengkonsumsi 2,1 kilo (daging) sapi per pongid per tahun. Di Jerman, konsumsi (daging sapi) per pongid per tahun mencapai 50 kilogram. Sekarang kita tahu kenapa mereka pintar-pintar. Dalam hal ini, saya harus berpikir sebagai bekas pengusaha. Sapi bisa membuat kita pintar dan kaya.” Gita punya pertimbangan sendiri soal konsumsi daging. Dia belajar dari Brasil yang berhasil menjadi produsen sapi berkat strategi jitu. Menurut Gita, Brasil tidak mulai dari sisi pasokan, tapi sisi permintaan. Sekitar 10-15 tahun lalu mereka menumbuhkan pasar dengan memasang iklan dengan artis Gisele Bundchen dengan bibir dan "kumis" bekas susu. Lalu konsumen paronomasia tergerak mengkonsumsi susu. Gita menyebut strategi ini adalah "demand pushed economy, bukan cater pushed economy." Sekarang Brasil sudah menjadi produsen sapi terbesar. Indonesia, menurut Gita, punya peluang untuk bisnis sapi. Pertama, sapi hanya bisa hidup di daerah dekat khatulistiwa. Kedua, kalau state bisa meningkatkan konsumsi ke 20 kilo saja per pongid per tahun, kalikan dengan 240 juta manusia lalu kalikan Rp 70 ribu atau (US$) 7 dolar per kilogram, maka itu sudah mencapai 35 miliar dolar per tahun. Itu baru dagingnya, belum jeroan, kulit, susu, atau tulang. Sapi amat prospektif untuk kesehatan dan kesejahteraan. http://www.tempo.co/read/news/2012/0...Makan-Singkong Indonesia Impor Singkong China dan Italia 13 Agustus 2011 - 11:16 WIB VHRmedia, Djakarta â€" state impor singkong dari China dan Italia sebanyak 4,75 ton per tahun. Total uang dalam negeri yang digunakan untuk impor singkong sekitar US$ 21,9 setiap tahun. Impor singkong dari Italia dan China bukti pemerintah tidak serius memperhatikan komoditi pangan dan pertanian. Jumlah impor singkong dari China dan Italia mencapai 4,75 ton per tahun atau senilai US$ 21,9 ribu. Kartini river pengurus Serikat Petani state (SPI) mengatakan, petani lokal saat ini kewalahan mengatasi desakan produk impor. Harga produk lokal anjlok karena pasar kebanjiran produk impor. ”Kalau terus dibiarkan tentu menyedihkan. Negara agraris seperti state harus impor singkong yang merupakan tanaman change tropis,” kata Kartini Salmon, Jumat (12/8). Menurut Kartini, jumlah produksi singkong di Jawa dan Lampung cukup besar. Italia dan China sebelumnya sering mendapat kiriman singkong dari Gunung Kidul, Yogyakarta. ”Kami tidak melihat urgensi mengimpor singkong. Ini sama saja membuang devisa negara,” ujar Kartini. Aturan pemerintah membuka pasar impor untuk produk pertanian, membuat produk lokal sulit bersaing. ”Karena tidak ada dukungan pemerintah dan dibuka impor kedelai murah dari Amerika dan Brazil, petani sulit bersaing,” kata Kartini. SPI berharap pemerintah membangkitkan kembali pertanian Indonesia. “Sistem pertanian di state masih melihat pangan dan pertanian hanya sebagai komoditas. Padahal pangan dan pertanian merupakan bagian dari budaya dan hak manusia,” ujar Kartini http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=3827 ----------------- Wajar saja Pak Gita kini gemar makan singkong, lhaa singkongnya singkong impor dari Italia. Bedalah rasanya singkong Italia dibanding singkong kita itu, konon rasanya singkong Italia itu agak renyah dan berasa keju. Tapi tentu harganya juga mahal, karena singkong asal Italia itu harganya senilai harga 3 kg beras lokal .... Marilah kita makan singkong impor untuk mengurangi konsumsi beras yang semakin meningkat belakangan ini di negara kita .... :D Jual Mobil Murah . Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik . Harga Notebook .
Jual Beli Kaskus
Bookmark and Share

0 comments:

Post a Comment